Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Ananda..mari jaga iffah-mu...( catatan seorang ayah...)

Sebuah catatan indah, agar kita senantiasa mengingatkan diri dan putri2 kita..amanah indah dariNya..   Ananda, mari jaga ifahmu..!!!   Ananda, mari jaga ifahmu dengan istiqomah walau kau dan ayah harus merangkak luka-luka, menerobos onak,kerak neraka berbusana kemajuan Karena engkau adalah bunga amanah surga, harum bagai mawar tapi ringkih seperti bunga matahari Maka jadilah mutiara terlindung dibalik cangkang mahrammu Tak perlu seperti merak,tetaplah jalan merunduk Merendah malu Ananda,mari jaga ifahmu dengan kesabaran Dari panah kehinaan bermata racun dan kematian iman  Jika hanya satu panah,tentu bisa ayah hindari Tapi ini satu panah, dua panah,tiga, empat, bertubi-tubi Sekutu Dajjal telah menyerang dari berbagai arah ,Dengan berbagai polah dan gaya   Baiklah, ananda Untuk lebih amannya, Bagaimana kalau katakan saja pada mereka, para pemuda yang hatinya tergadai untukmu Bahwa ananda tak kenal ikhtilat , Apalagi cinta yang bukan karena Allah Sudahlah jangan percaya bahwa setengah te...

8 Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Gambar
Rating: ★★★★ Category: Other Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA. Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di Kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan....

Teruntuk Anak-ku..Buah hatiku ( review from Ust Aidil Heryana's notes )

Inilah Surat Ibu yang Tergolek Tak Berdaya.... Anakku…. Ibu menulis surat ini di tengah keletihan yang teramat sangat. Air mata bercucuran deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Engkau memang lelaki yang gagah lagi matang, ibu yakin engkau akan sanggup membaca surat ini. Bacalah! Dan bila tidak suka, engkau dapat merobek setelah membacanya. Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan ibu mengandungmu. Seluruh aktivitas ibu jalani dengan susah payah karena mengandungmu. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaan ibu. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat ibu melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatan ibu demi kesehatanmu. Kegelisahan ibu demi kebaikanmu. Harapan ibu hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu...

Membangkitkan Semangat Anak

Heri Hendrayana. Lahir dalam keadaan normal, lengkap kaki dan tangan. Masa kecilnya dihabiskan di antara tumpukan buku-buku bergizi, permainan yang penuh semangat dengan teman-teman sebaya, dan curahan perhatian serta kasih sayang berlimpah dari kedua orangtuanya. Bapak Ibunya berasal dari kultur berislam yang berbeda. Begitu ia pernah bertutur kepada saya seusai shalat berjamaah di atas pesawat yang mengantar kami ke negeri Nabi Musa ‘Alaihissalaam, Mesir. Lebih penting dari itu, orangtuanya membesarkan Heri dengan wawasan luas, pendidikan terbaik dan kasih sayang yang sangat besar. Keduanya membesarkan dengan semangat religius yang kuat. Umur sepuluh tahun adalah saat paling bersejarah baginya. Tepatnya 5 Oktober 1973, si kutu buku ini jatuh dari pohon setinggi tiga meter. Tangan kirinya patah. Sikut ke bawah jatuh terkulai seperti pelepah pohon pisang yang tanggal. Karena keadaan yang parah, tak ada pilihan lain untuk menyembuhkan kecuali dengan memotong tangannya. Diamputasi. Ya, a...

Pesan Ini, Nak..Kutulis Untukmu..

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim Aku tapaki jalan ini penuh pinta, anakku. Kesenangan adalah impian yang kusimpan untuk kuminta pada Tuhan ketika tubuh ini sudah menjadi tulang belulang, sebab dunia terlalu pahit untuk diperebutkan. Tak ada yang abadi dari permainan dunia, sebagaimana hidup ini juga tidak abadi. Banyak sudah manusia yang mati. Dan kita hanya menunggu kematian dipergilirkan. Mengenangkan orang-orang tercinta, anakku, adalah rasa hina karena tak sanggup membalaskan kebaikan-kebaikan mereka semua. Betapa mudah hati lupa oleh kenikmatan yang tak seberapa ini. Lupa asal-usul, lupa tempat kembali sesudah mati, dan lupa pada tujuan penciptaan ini. Maka aku pesankan, anakku, arahkanlah pandangan mata hatimu kepada hidup sesudah mati. Dan bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah saat untuk bersiap-siap… Aku tapaki jalan ini penuh airmata, anakku. Aku pernah sakit berbulan-bulan dengan jantung yang sedikit bermasalah. Aku akhirnya bisa bangkit ketika aku belajar melupakan rasa sa...

Hari-Hari Mendatang Anak-Anak Kita

Kalau hari ini kita masih ingat agama, dan merelakan keringat kita di jalan-Nya, maka itu boleh jadi bukan keberhasilan kita. Kalau hari ini kita ingat tentang tanggung jawab sesudah mati, sangat mungkin bukan karena kebaikan yang sepenuhnya lahir dari kesadaran kita. Boleh jadi itu semua bukan merupakan prestasi kita sendiri, melainkan justru terutama orangtua kita. Mereka menanam benih-benihnya, lalu tumbuh mengakar di dada kita. Atau para guru kita yang tulus menyemainya, lalu Allah kokohkan dalam hati kita. Historia vitae magistra, begitu kata pepatah. Sejarah atau pengalaman adalah guru terbaik kehidupan. Orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka yang telah mendahului kita, Insya Allah akan tahu bagaimana memaknai tugas hidup sebagai orangtua. Dari perjalanan saya ke timur dan ke barat, saya melihat betapa tak bergunanya kebanggaan terhadap kreativitas dan kecerdasan anak, ketika mereka tidak tahu jalan hidup yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama yang tinggi pun akan sia-s...