Postingan

Menampilkan postingan dengan label pengasuhan

Islamic Boarding School atau Pesantren ?

Gambar
Tahun ini, si sulung menyelesaikan tahapan pendidikannya di sebuah Islamic Boarding School, di kota Subang. Tiga tahun di jenjang SMP dan berlanjut tiga tahun berikutnya di jenjang SMA. Si tengah juga akan berlanjut ke jenjang SMA dan si bungsu InsyaAllah juga mengawali jenjang SMP di tempat yang juga sama dengan kedua kakaknya. Islamic Boarding School atau Pesantren ? Sebenarnya kami tidak terlalu memusingkan makna boarding school atau pesantren. Buat kami, keduanya memang memiliki nama yang berbeda, namun sejatinya keduanya haruslah memiliki satu makna yang sama. Ketika sebagian orang menganggap bahwa Islamic Boarding School sangat berbeda dengan pesantren, kami tidaklah  demikian. Kami menganggap, keduanya adalah satu tempat dengan pendekatan pembinaan yang sama. Mereka semua adalah santri, entah apakah mereka menyebut tempat itu sebagai boarding school, bukan pesantren. Maka sejatinya, dalam sebuah lingkungan pendidikan berbasis boarding atau pesantren, yang akan dijalani...

Jangan Tinggalkan Peranmu, Ayah..

Gambar
Sempat salah fokus ketika membaca sebuah caption bertema keberhasilan anak-anak meraih prestasi dalam sebuah status yang melintas di beranda timeline facebook. Dituliskan jelas pada caption, bahwa yang awal menghantarkan anak-anak itu memasuki sekolahnya hingga meraih pretasinya sekarang adalah sosok ibu. Ya, hanya tertulis ibu. Lalu sosok ayah ? Apakah ayah mereka tidak memiliki peran dalam memilihkan sekolah lalu mengantarkan anaknya memasuki sekolah tersebut? Ataukah tidak ada peran ayah sama sekali dalam memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya ? Ataukah juga malah tak ada sebersit doa pun dari ayah mereka yang bisa menjadi kunci taqdir keberhasilan anak-anak mereka itu ? Saya tidak tahu, apakah memang realita dari status tersebut memang mengetahui bahwa hanya ibu-ibu anak itulah yang berperan dalam pendidikan hingga keberhasilan anak-anak tersebut ataukah hanya selintas gambaran umum yang dijumpai, bahwa biasanya para ibu lah yang memegang peranan besar dalam pendidi...

Bershabarlah Menyalakan Bara Mereka

Ibarat mengipasi arang untuk mengeluarkan api, begitulah saat kita harus menggesah seorang jiwa anak manusia yang sudah tercerabut potensinya, terluka jiwanya dan terkungkung dengan label-label negatif yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Menghadapi anak atau remaja dalam kasus seperti ini, orangtua, guru dan orang di sekitarnya yang peduli dengannya seolah memang sedang mengipasi arang agar keluar nyala apinya. Diperlukan tenaga maksimal untuk mengayun kipas, kesahabaran menunggu dan juga sanggup menahan kebas-kebas di tangan, ketika arang belum juga menghasilkan api. Mungkin juga membutuhkan beberapa kali siraman minyak tanah untuk mempercepat keluarnya api, tapi tetap saja akan membutuhkan tenaga serta keshabaran untuk menunggu diluar perkiraan harapan.  Seorang anak dengan keadaan seperti arang ini memang harus terus dibantu agar bisa hadir kembali nyala semangatnya yang membakar. Semangat yang akan membakar jiwanya untuk kemudian sanggup memberikan peran tak hanya ...

Temani Mimpi Dan Cita-Cita Mereka

Gambar
Menatap photo-photo ini di layar monitor, saat rehat sejenak dari memainkan jari merangkai aksara. Tetiba, alunan rindu dan untaian doa terapal untuk cahaya-cahaya mata nun jauh disana, yang sementara waktu harus berpisah berjuang di kawah peradaban. Mereka yang hari ini sedang menjalani sebagian episode kehidupannya, sebuah tahapan ikhtiar persiapan menggapai impiannya. Impian, harapan & cita-cita yang dirajut sejak usia mereka masih belia. Cita-cita dan harapan yang hingga kini pun belum pernah terdengar berubah, atau mungkin sedikit mengubah tujuan, misalnya. Harapan, yang mungkin saja memang tertanam dan terwaris dari setiap dialog-dialog cinta kami bersama mereka dahulu. Dialog-dialog yang sering kami lakukan sebagai ikhtiar menghantarkan mereka untuk menjadi sebaik baik hamba-Nya, yang kelak saat bertemu dengan Dia yang telah memilih kami untuk menitipkan mereka, kami pun sanggup mempertanggungjawabkan amanah-Nya. Maka, teringatlah akan beberapa kisah yang terus memotiva...

Saat Ikhtiar dan Doa Tak Sesuai Taqdir

Gambar
Awal tahun, episode pencarian sekolah lanjutan akan menjadi aktivitas umum di kalangan orangtua. Pilah pilih, ikut tes sana, ikut tes sini. Ikhtiar mencari yang terbaik, begitu pasti niat yang utama. Kemarin berbincang dengan seorang teman yang kebetulan juga sedang disibukkan dengan aktivitas mencari sekolah untuk anaknya. Qadarullah, di salah satu sekolah favorit yang jadi tujuannya, sang anak dinyatakan tidak lulus. Padahal, sekolah itu adalah sekolah yang paling diunggulkan oleh mereka dan sang orangtua pun dengan sangat yakin memastikan bahwa anak nya akan lulus test masuk. Maka obrolan kami setelah dia mendapatkan hasilnya itu diwarnai dengan berapi-apinya teman saya yang mengutarakan kekecewaannya. Sampai pada statement bahwa dia mendengar kabar dari orang-orang kalau ternyata di sekolah tersebut berlaku sistem nepotismeatau mendahulukan orang-orang terdekat dengan para petinggi-petinggi yayasan, serta pilih kasih dalam menentukan siswa yang lulus. " Seperti...

Ruang Hati

Masih terbayang sebuah acara seminar parenting dengan pembicara nasional – international yang tidak diragukan lagi keIlmuannya. Bukan hanya dari ilmu parentingnya, tapi juga kapasitas aqidah nya, yang buat saya sendiri merasa teramat sayang jika harus dilewatkan begitu saja, apalagi dengan kondisi lingkungan generasi yang sudah mengkhawatirkan. Memanfaatkannya untuk membuka wawasan, membuka cakrawala dan dunia pandang. Dan , terpana saat masuk ke ruangan..deg. !! Tak seperti yang dibayangkan. Tak dijumpai antusiasme yang sama untuk seminar serupa dengan pembicara yang sama, seperti di kota2 lain negeri ini. Terkesima saat mendengar kisah di balik pelaksanaannya. Terkagum dengan salah satu penggagas acara nya…semoga Allah berikan kebaikan berlipat ganda atas semua jerih payah, usaha moril dan materil mu ya bunda..InsyaAllah, niat dan amal bunda sudah Allah catat dengan sempurna pun balasannya. Ah, mungkin memang masih seperti ini rupa ruang gerak kita, rupa ruang da’wah kita. Berat..da...

Celoteh Senja

Pulang sekolah, zaheed cuci tangan, ngemil sambil cerita aktifitasnya di sekolah. Belum lama, terdengar adzan ashar. Mandi kemudian shalat. Habis shalat, Zaheed: umi, adek ( membahasakan dirinya ke umi masih dgn adek..:D ) mau main sepeda sebentar ya... Umi : nggak lanjutin ceritanya aja mas? Tiba-tiba za nyeletuk: Za :Mas, umi kangen tuh sama kita, dari pagi kita tinggal sekolah, kangen denger bawelnya mas zaheed..." dia pun senyum-senyum nakal Zaheed: umi kangen? baru ditinggal egitu mi..nnt kl adek sekolahnya jauh, di pesantren yg pulangnya nggak setiap hari, trus kuliah misal di luar negeri gimana mi? kan nnt nggak sama umi nya lama.." Za: iya, mi..kan habis SD juga nnt za mau sekolah yg spt pesantren itu, yang nggak pulang lama itu lho mi... *kayanya kok godain umi nya nih anak-anak..:) "Umi tambah kangen kita deeeeeh..." aaarggh, anak-anak malah kooor....tapi, sambil meluk umi nya...:D * diam-diam uminya menghitung masa sekolah mereka, dan...