Surat Cinta dari Sahabat

 “…Layak kah seorang manusia mengatakan beriman padahal mereka belum (pernah) mendapatkan ujian..”

Semoga Allah senantiasa menyayangi kita sebagai hamba-hamba Nya. sayang Nya Allah tentunya akan datang dengan cara yang bervariasi, kadang dengan keni’matan yang tidak terhingga menjadikan kita hamba yang bersyukur…

Lain masa ada rasa sayang Nya yang datang dalam bentuk yang lain pula…, ujian, musibah dan kepayahan…hamba yang selalu berhusnudzon akan segera mencoba kembali mendekatkan dirinya kepada Allah dalam ‘baju kesabaran’..

Introspeksi diri, muhasabah jiwa dan bercermin dengan perilaku yang selama ini kita berikan kepada Nya, memenuhi hak-hak Nya, kewajiban dakwah dalam memperjuangkan hukum-hukum Nya…apakah diri kita sudah begitu sempurna untuk dikatakan sudah layak mendapatkan gelar muttaqin, padahal jiwa ini terasa kerdil dan kotor dengan segala keputus asaan dan ketidak ridhoan atas apa yang menimpa…

Pantaskah diri ini mendapatkan ’service’ utama dari Allah, hanya karena kita sudah merasa cukup bersabar dengan apa yang menimpa, padahal internal jiwa begitu rapuh dan mudah mengeluh…masih jauh dari pribadi-pribadi agung yang sudah mencatat sejarah dalam tinta emas…al khansa’, sofiyyah, asma’..’

Wahai hamba Allah,
Insya Allah, semakin berat ujian kita maka pertanda Allah semakin sayang dengan kita…karena syurga itu mahal dan hanya bisa dibeli dengan pengorbanan yang ikhlas.
syurga Allah yang begitu mahal dan agung ternyata akan kita jumpai dalam berbagai episode drama kehidupan…

Ia terletak dalam drama keta’atan seorang anak dihadapan bunda tercintanya, yang telah bersusah payah melahirkan dan membesarkannya…

Ia kita jumpai dalam romantika biduk rumah tangga ketika seorang isteri solehat memberikan dedikasi keta’atannya kepada sang suami…mengalahkan orang tuanya sekalipun

Ia ada di bawah kilatan pedang yang dipergunakan dalam jihad fi sabilillah..,

Allahummarzaqna asyahadah!

Wahai hamba Allah, sudahkah kita kembali bermuhasabah dengan penuh keikhlasan dengan amalan-amalan kita yang sudah lewat, apakah yang dapat kita rasakan dari muhasabah itu?

Sejauh manakah kontribusi kita dalam agama Nya? dalam dakwah syiar-syiar Nya? dalam merajut ukhuwah dengan hamba-hamba Nya yang lain?

Ataukah kita masih sering berkeluh kesah? masih belum bisa menjaga aurat diri, suami dan keluarga besar kita, sahabat-sahabat kita? kita masih lebih banyak ‘memberikan’ kepada sahabat semua ‘uneg-uneg hati’ kita daripada menerima saran dan nasihat-nasihatnya.., masih selalu memberikan ‘pekerjaan rumah’ untk para sahabat, dan meninggalkan ‘majelis-majelis’ dzikirnya…


Lalu, memenuhi ruang hati dengan ketidak puasan, penyesalan yang seolah-olah tanpa jalan keluar…

Allahummagfirlana jami’an



~Serambi Cinta, the letter from didimochammad@gmail.com~

(taken from: ukhti_salsabila.diary.blogspot.com )

Ummi copas yaa dee....:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bershabarlah Menyalakan Bara Mereka

Rumah Cahaya

Merencanakan Mimpi