Postingan

Sejarah ? Cukup kah menjadi dongeng ?

Sejak kemarin melihat beberapa photo yang di upload bertemakan acara memperingati Hari Kemerdekaan negeri ini. Dan kemarin di sela-sela rehat, kami pun mencari tontonan film ' sejarah' via you tube di rumah , yang sudah jarang sekali ditemukan di media-media elektronik . Tiba pada film Jend. Soedirman, tetiba saya merasa perih dan menangis . Entah, jika sang Panglima Besar Tentara Republik - dahulu - ini masih hidup, mungkin beliau akan sangat bersedih melihat negeri ini sekarang. Jenderal yang besar di keluarga santri, dekat dengan para ulama, tetap berjiwa nasionalis, berupaya dengan sekuat tenaga mempertahan kan negeri ini dengan perang gerilya nya, walau sang Presiden RI saat itu menolak memenuhi janji untuk bersamanya memimpin rakyat bergerilya , ketika para penjajah kembali menancapkan kuku nya di negeri ini. Membayangkan beliau dulu dengan fisik yang tak sehat, terpaksa duduk di kursi tandu, menempuh bilangan masa dengan 1 paru- paru saja. Namun betapa pun...

Semua berlaku atas kehendakNya

Gambar
Ternyata  ada yang masih tetep penasaran sedikit nih dengan Gontor , walaupun kemarin sudah dapat hasil pengumuman test di As Syifa yang menyatakan dia lulus..- alhamdulillah -. Hmm..Gontor PMB nya baru nanti bulan syawal sih ya...:) Ya, Za memang jatuh hati pertama kali dengan pesantren Gontor, seiring dengan keinginannya sejak lama, bahwa nanti bisa kuliah di Al Azhar, kairo. Dan peluang lulusan Gontor untuk kuliah disana memang sepertinya sangat besar. Tetapi akhirnya, setelah banyak diskusi dengan kami, menimbang banyak hal, termasuk jarak , akhirnya Za putuskan mencoba mengikuti tes seleksi d dua pesantren , Husnul Khotimah, kuningan dan As Syifa, Subang. Awalnya, dia berharap bisa masuk di Husnul, mengingat sebagian besar teman SD nya juga banyak yang mengikuti seleksi disana. Qadarullah, Allah tidak mengizinkan Za menjadi bagian dari kurang lebih 200 orang terpilih dari 1500 peserta seleksi masuk Husnul Khotimah. ( baca tulisan sebelumnya di http://feetreeum...

Saat Ikhtiar dan Doa Tak Sesuai Taqdir

Gambar
Awal tahun, episode pencarian sekolah lanjutan akan menjadi aktivitas umum di kalangan orangtua. Pilah pilih, ikut tes sana, ikut tes sini. Ikhtiar mencari yang terbaik, begitu pasti niat yang utama. Kemarin berbincang dengan seorang teman yang kebetulan juga sedang disibukkan dengan aktivitas mencari sekolah untuk anaknya. Qadarullah, di salah satu sekolah favorit yang jadi tujuannya, sang anak dinyatakan tidak lulus. Padahal, sekolah itu adalah sekolah yang paling diunggulkan oleh mereka dan sang orangtua pun dengan sangat yakin memastikan bahwa anak nya akan lulus test masuk. Maka obrolan kami setelah dia mendapatkan hasilnya itu diwarnai dengan berapi-apinya teman saya yang mengutarakan kekecewaannya. Sampai pada statement bahwa dia mendengar kabar dari orang-orang kalau ternyata di sekolah tersebut berlaku sistem nepotismeatau mendahulukan orang-orang terdekat dengan para petinggi-petinggi yayasan, serta pilih kasih dalam menentukan siswa yang lulus. " Seperti...

Terus menulis , nak...

Gambar
"Ummii....kata asma, puisi za masuk majalah ummi lho...beliin dong mi majalahnya " pulang acara ahad kemarin, za langsung laporan. "Edisi Juni?  "iya.." " Kok asma udah tahu? kan skrg masih tgl 30 mei. Memang udah keluar yang edisi Juni ?" tetiba umminya ingin iseng "Udah mi..asma kan umminya langganan..katanya udah datang majalahnya. trus lihat ada puisi za disana .." "Ooh...nggak salah lihat nama ?" ummi nya masih iseng. Padahal sih memang sejak 2 bulan lalu sudah diinfo dari majalah ummi nya, memberitahu kalau memang tulisan puisi za akan masuk di edisi Juni. Tapi, abi dan ummi nya sengaja nggak bilang dulu ke Za, biar nanti surprised aja saat beli majalahnya dan dia lihat sendiri. Eeh...ternyata...temannnya udah ada yang duluan lihat...:D Karena ahad loper majalah langganannya tutup, akhirnya baru senin sore Majalah Ummi edisi Juni dibelikan abi za. Itupun, sudah sejak siang ditunggu dengan tidak shabar o...

Inilah Yang Disebut Episode Cinta Mewaris Ilmu

Ketika melihat rak-rak buku di rumah , jadi teringat masa kecil. Dahulu, rumah kami yang sangat sederhana dipenuhi buku. Hanya ada satu ruangan di rumah yang berfungsi sebagai tempat kami berkumpul, makan , sholat dan mengaji bersama sekaligus sebagai ruang tamu dan ruang kerja bapak sebagai guru di sebuah sekolah dasar. Yang paling mencolok dari ruangan itu adalah sebuah lemari buffet , yang seharusnya berfungsi sebagai lemari pajangan, namun pada akhirnya beralih fungsi menjadi tempat buku-buku yang berjejer rapi, juga tumpuk menumpuk karena jumlah bukunya yang tidak sepadan dengan ukuran buffet. Termasuk satu meja kerja bapak di sudut ruangan yang juga dipenuhi dengan buku. Ya, saya terlahir dan besar dalam keluarga pecinta buku, khususnya bapak , yang rasa sukanya terhadap buku lebih dari orang kebanyakan. Sebagai seorang guru SD, setiap kali pulang mengajar bapak tidak pernah lupa membawa buku-buku dari perpustakaan sekolah untuk dipinjamkan kepada anak-anaknya. Dulu, tidak sem...

Ruang Hati

Masih terbayang sebuah acara seminar parenting dengan pembicara nasional – international yang tidak diragukan lagi keIlmuannya. Bukan hanya dari ilmu parentingnya, tapi juga kapasitas aqidah nya, yang buat saya sendiri merasa teramat sayang jika harus dilewatkan begitu saja, apalagi dengan kondisi lingkungan generasi yang sudah mengkhawatirkan. Memanfaatkannya untuk membuka wawasan, membuka cakrawala dan dunia pandang. Dan , terpana saat masuk ke ruangan..deg. !! Tak seperti yang dibayangkan. Tak dijumpai antusiasme yang sama untuk seminar serupa dengan pembicara yang sama, seperti di kota2 lain negeri ini. Terkesima saat mendengar kisah di balik pelaksanaannya. Terkagum dengan salah satu penggagas acara nya…semoga Allah berikan kebaikan berlipat ganda atas semua jerih payah, usaha moril dan materil mu ya bunda..InsyaAllah, niat dan amal bunda sudah Allah catat dengan sempurna pun balasannya. Ah, mungkin memang masih seperti ini rupa ruang gerak kita, rupa ruang da’wah kita. Berat..da...

Berapa Lama kita akan bersama di dunia ini, nak...?:(

Setelah Zaheed masuk SD, dalam 1 minggu ada 5 hari yg terasa lebih sepi.  Za dan Zaheed berangkat sekolah jam 6.00 pagi, sampai di rumah lagi jam 15.00. Pulang sekolah, mereka istirahat sebentar, mandi, shalat ashar. Khusus zaheed, setelah itu sering minta ijin main sepeda, atau main ke lapangan dekat masjid kompleks.  Saat masih TK, jam 11 zaheed sudah di rumah, sehingga waktu ngobrol dan main dengan dia lebih lama.Ppaling seneng kalo ngobrol dengan nya. Trus dilanjut ba'da shalat isya , sambil belajar ngobrol dengan zaD diskusi macem2, mulai dari bahasan sederhana sampai urusan politik , mereka nyambung juga kalau diajak diskusi.Paling seru kalau mereka habis membaca atau dibacakan buku . semua isi buku ditanyakan hingga detail, minta penjelasan lanjut, minta diberi contoh konkret dan lain-lain . Sekarang , 5 hari dalam seminggu kurang lebih 8 jam, hanya aktivitas dengan Husna, mengaktifkan semi HS nya di rumah. Husna juga keliatan kehilangan dengan ketia...