Postingan

Bershabarlah Menyalakan Bara Mereka

Ibarat mengipasi arang untuk mengeluarkan api, begitulah saat kita harus menggesah seorang jiwa anak manusia yang sudah tercerabut potensinya, terluka jiwanya dan terkungkung dengan label-label negatif yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Menghadapi anak atau remaja dalam kasus seperti ini, orangtua, guru dan orang di sekitarnya yang peduli dengannya seolah memang sedang mengipasi arang agar keluar nyala apinya. Diperlukan tenaga maksimal untuk mengayun kipas, kesahabaran menunggu dan juga sanggup menahan kebas-kebas di tangan, ketika arang belum juga menghasilkan api. Mungkin juga membutuhkan beberapa kali siraman minyak tanah untuk mempercepat keluarnya api, tapi tetap saja akan membutuhkan tenaga serta keshabaran untuk menunggu diluar perkiraan harapan.  Seorang anak dengan keadaan seperti arang ini memang harus terus dibantu agar bisa hadir kembali nyala semangatnya yang membakar. Semangat yang akan membakar jiwanya untuk kemudian sanggup memberikan peran tak hanya ...

Pintakan Do'a & Doakan Mereka, Nak

Gambar
Teringat pesan hikmah dari seorang gurunda yang bergitu bersahaja. Tentang do’a yang melangit dan bertemu dengan doa-doa yang sama dari mereka yang saling terhubung hati dan tujuannya.  Ya, tentang para orangtua yang mengetuk langit dengan harap & pinta untuk kebaikan anak-anak mereka, lalu terkekalkan dengan doa para guru dan pendidik anak-anak mereka yang tak henti bertabur indah menyertai hari-hari mereka sebagai pencari dan pewaris ilmu.  Sinergi yang indah. Sinergi doa-doa ikhlas yang melesat beriringan, berpadu utuh menjelma sebagai kekuatan dahsyat, menjadi sebab penuh cintanya Allah mengabulkan semua harap untuk keberhasilan anak-anak mereka semua. Sebab, memang kita tidak akan pernah tahu, sesiapa yang paling memenuhi syarat terkabulkannya do’a saat ia terlantun memenuhi ruang semesta. Apakah para orangtua yang terkadang merasa sangat berhak menguasai cahaya mata, lalu merasa paling elok melantunkan doa dengan segala upaya dirinya memantaskan diri sebaga...

Selamat Jalan BJ Habibie, Bapak Teknologi Kebanggaan

Gambar
Senja kemarin, 11 September 2019 Indonesia berduka. Presiden negara ke 3, sekaligus salah satu Ilmuwan terbaik dunia yang dimiliki bangsa, kebanggaan umat dan dicintai dunia, Prof. Dr.Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie memenuhi panggilanNya, meninggalkan dunia di usia 83 tahun. Kepergian sosok tekhnorat religius, jujur, berdedikasi tinggi ini meninggalkan duka yang mendalam untuk seluruh anak bangsa juga dunia.  Betapa tidak ? Tidak ada yang memungkiri, perjalanan kehidupan beliau yang sarat dengan pelajaran berharga menjadi rekam jejak yang tidak akan pernah terhapus dalam ingatan. Masih teringat di zaman kecil dulu, sosok beliau begitu menjadi idola dan panutan. Setiap anak yang ditanya cita-citanya kelak seperti apa, sebagian besar, termasuk saya akan menjawab, “ Ingin seperti Pak Habibie “. Begitulah, bapak tekhnologi yang namanya selalu ada mengisi ruang kepala putra putri bangsa, khususnya mereka yang begitu mencintai ilmu. Kecemerlangan otaknya, kesahajaan pribadinya,...

Temani Mimpi Dan Cita-Cita Mereka

Gambar
Menatap photo-photo ini di layar monitor, saat rehat sejenak dari memainkan jari merangkai aksara. Tetiba, alunan rindu dan untaian doa terapal untuk cahaya-cahaya mata nun jauh disana, yang sementara waktu harus berpisah berjuang di kawah peradaban. Mereka yang hari ini sedang menjalani sebagian episode kehidupannya, sebuah tahapan ikhtiar persiapan menggapai impiannya. Impian, harapan & cita-cita yang dirajut sejak usia mereka masih belia. Cita-cita dan harapan yang hingga kini pun belum pernah terdengar berubah, atau mungkin sedikit mengubah tujuan, misalnya. Harapan, yang mungkin saja memang tertanam dan terwaris dari setiap dialog-dialog cinta kami bersama mereka dahulu. Dialog-dialog yang sering kami lakukan sebagai ikhtiar menghantarkan mereka untuk menjadi sebaik baik hamba-Nya, yang kelak saat bertemu dengan Dia yang telah memilih kami untuk menitipkan mereka, kami pun sanggup mempertanggungjawabkan amanah-Nya. Maka, teringatlah akan beberapa kisah yang terus memotiva...

Merdeka Adalah Leluasa Menjaga

Gambar
Kekuatan sebuah bangsa yang besar sejatinya hadir dari penderitaan dan perjuangan yang dilakoninya berbilang masa yang panjang dan berat. Perjuangan yang seungguhnya pun belum akan berhenti hanya dengan satu kata 'merdeka'. Perjuangan yang lebih berat dan amat panjang berikutnya adalah bagaimana menjaga apa yang sudah ada di hadapan, mempertahankan kedaulatan dan harga diri yang sudah diraih, mengukuhkan jejak-jejak perjuangan para pendahulunya pada setiap generasi yang terlahir di negeri ini dengan sempurna, tanpa ada yang direkayasa. Kelak, mereka yang memahami betul perjalanan bangsa ini menuju jayanya, akan sungguh-sungguh mematri utuh hakikat melanjutkan perjuangan sebuah bangsa, dengan cinta yang hadir tulus atas bentuk kesyukuran kepada Sang Pemberi Kemerdekaan sesungguhnya. Yakinlah, mereka anak-anak bangsa  yang mencintai sungguh-sungguh Penciptanya dan memahami benar setiap titah-Nya, takkan pernah menyia-nyiakan negeri dan bangsanya. Mereka akan sepenuh jiwa me...

Menikah ; Saling Menguatkan, Jangan Melemahkan !

" Seorang akhwat atau perempuan aktivis da'wah baru akan benar-benar teruji gerak dari semangat dakwahnya setelah nanti dia sudah menikah. Tetap semangat atau malah makin mengendur." Masih teringat betul kalimat itu, yang bertahun-tahun dulu pernah tersampaikan dan begitu menghunjam dalam ingatan. Dan, ternyata memang betul kan, ya ? Sebelum menikah, energi bergerak yang luar biasa tak kenal lelah memang begitu nampak pada seorang akhwat / perempuan. Ya, karena memang masih sendiri, tentunya belum banyak amanah atau 'masalah-masalah' unik yang harus dihadapi seorang perempuan saat itu. Akan lain cerita ketika ia sudah menikah. Ada "setumpuk' tambahan amanah yang Allah berikan mengiringi status baru yang tersematkan padanya, sebagai istri ( dan ibu ). Salah satunya adalah kehadiran anak-anak dengan segala pernak perniknya ( juga anak mertua tentunya ) untuk diperhatikan menjadi kewajiban yang harus ditunaikan. Ditambah lagi ragam warna-warni ...

Samudera Keikhlasan Dalam Bait Perjuangan

Hari itu, pertama kalinya kami  berkunjung ke Assyifa Boarding School kampus 2 di Wanareja, Subang. Kampus terbaru dari Assyifa yang baru saja diresmikan sekitar 2 tahun silam ini ditempuh kurang lebih 30-35 menit dari kampus utamanya di jalan cagak kabupaten Subang. Kampus ini mungkin bisa dibilang lebih dekat dengan pusat kota Subang. Jadi, untuk kami yang masuk dari arah Jakarta lewat tol cipali, kampus Wanareja ini terbilang lebih cepat untuk dicapai ( 20-25 menit ) selepas keluar tol dan masuk kota Subang. Walaupun begitu, rupanya lokasi kampus ini begitu ' istimewa'. Bagaimana tidak ? Jika untuk mencapai Assyifa Jalan Cagak kami cukup melewati jalan raya yang mulus dan ramai, maka untuk  menuju kampus wanareja ini, kami harus masuk melewati jalan-jalan sederhana, dan kemudian menyusuri jalan sepi sekitar 10 menit dengan suguhan bentangan hutan karet di sisi kanan kiri jalan. Terbayang suasana jalan ini saat  malam hari. Gelap, lengkap dengan suasana hutan yang pa...