Postingan

Mari Luaskan Empati Tak Bertepi Kita

Gambar
" Bu, katanya korona bikin anak-anak ga bisa masuk sekolah kaya biasa ya ? " trus katanya juga mending suruh hum skoling daripada masuk sekola entar kena korona.  Itu gimana caranya ya bu? " " Kudu pake hp atawa laptop gitu ya? Kl gak punya, mesti gimana ya bu?  " Mesti beli paket internet brp lagi kira-kita ya bu buat belajar di rumah lagi kaya gitu ?" " kl hum skoling, ntar anak-anak belajarnya ama siapa bu ? " " Ya Alloh .. Kita bs apa bu? Lulus sekolah juga nggak. Makanya biarin anak-anak belajar ke sekolah ama bapak ibu guru yang ilmunya ada." " Sy mesti jualan ama bapaknya anak-anak, bu tiap hari. Pergi hbs shubuh, sampe rumah udah sore. Kalo sy gak ikut dagang, bapaknya lebih susah nnt buat cukupin beli beras ama lauk makan anak-anak juga tiap hari. Tapi, entar anak belajarnya gimana kalau mesti ama saya juga ya ? " Anak 5 bu. Hape cuma ada 2, punya sy ama bapaknya. Itu jg sering ga ada pulsa. Gimana kl belajarnya mesti...

Ramadhan, Mari Berlomba..!

Gambar
Ramadhan memang bulan stimulus untuk memunculkan semangat 'berlomba' dalam kebaikan. Ketika masing-masing anggota keluarga sudah memiliki tautan visi dan misi yang serupa, maka semua gerak akan selaras diatas jalan yang sudah disepakati. Saling mengejar, bukan sekedar untuk mendahului agar ia tercatat unggul lebih awal. Tapi, semata untuk memunculkan deru semangat pada anggota keluarga lainnya, agar suhu berjalan atau berlari terus seirama dengan hentakan yang padu hingga mencapai akhir perjalanan bersama-sama. Indah bukan ? Nah, mengutip paparan Syaikh Abdul Karim Miqdad ( Ulama Palestina ) dalam kajian tarawih tadi malam, nih, kebaikan dan taqwa sejatinya memang bukan semata perjuangan manusia dengan sendirinya. Ketika Allah perintahkan taqwa kepada manusia yang memiliki berlimpah sifat lemah dan lalainya,sejatinya pula Dia meminta kita untuk saling menolong satu sama lain dalam mewujudkan kebaikan dan taqwa itu dalam diri masing-masing. " Dan tolong menolongla...

Doa dan Semangat Untuk Pendidik Peradaban ! (Virtual Classroom & Covid-19)

Kondisi aktifitas dunia beberapa waktu terakhir tetiba mengalami transformasi yang signifikan, termasuk aktifitas belajar mengajar di sebagian wilayah yang terdampak. Institusi pendidikan diinstruksikan untuk mengalihkan proses belajar mengajar mereka secara daring/jarak jauh, tak terkecuali beberapa sekolah berasrama seperti halnya Assyifa Boarding School. Para santri yang berasal dari berbagai wilayah dan terbiasa beraktifitas bersama di asrama pun harus mengikuti prosedur social distancing, tetap berada di rumah setelah jadwal libur pesiar kemarin. Apakah artinya 'liburan' para guru & anak-anak bertambah? Tentu saja tidak bisa diartikan sebagai jadwal libur tambahan untuk mereka. Kejadian Luar Biasa terkait semakin mewabahnya covid-19 di negeri ini, mau tidak mau memang mengharuskan sekolah di wilayah terdampak untuk 'patuh' mengikuti arahan tindakan pencegahan, salah satunya memperlakukan santri yang sudah berada di rumah saat libur pesiar kemarin untuk t...

'Home Learning' Ditengah Wabah Covid-19

Gambar
Home Learning kali ini memang lebih menantang dan mesti dibarengi dengan 'upgrade' fasilitas yang ada. Fix, akhirnya hp dan laptop kerja abi umminya pun terjadwalkan untuk media belajar anak-anak. Karena metode belajar dibuat virtual; jarak jauh, sehingga mengharuskan mereka terhubung online mulai dari belajar akademik, laporan setoran hafalan quran dan mutabaah aktifitas mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Itu artinya harus siap menatapi layar hp atau laptop dengan koneksi internet yang harus lebih dari cukup. Membersamai masa belajar anak-anak di rumah kali ini sebenarnya memang sudah tidak lagi dipusingkan dengan bagaimana mencari bentuk pembelajaran yang super kreatif agar bisa menumbuhkan & menjaga semangat belajar mereka. Ya, usia mereka sudah lebih matang. Cukup mengingatkan tentang tujuan dan harapan-harapan masa depan mereka, lumayan sudah bisa melecut 'semangat' dan inovasi mereka untuk bisa menikmati aktifitas belajarnya tanpa harus berpayah memod...

Terluka - Melukai

Gambar
Sejak kemarin berita remaja berusia 15 tahun yang membunuh seorang balita menjadi bahasan. Menelusuri keping-keping puzzle kisahnya yang tersaji dalam narasi-narasi berita. Film-film sejenis Chucky, Slender Man dan beberapa film horor penuh kekerasan memang dikabarkan menjadi genre film yang sering dinikmatinya. Semua imajinasinya juga terwujud dengan dukungan kecerdasan yang dimiliki, khususnya kecerdasan visualnya yang teramu dalam bentuk gambar-gambar yang ditemukan di rumahnya. Namun, sepertinya itu bukan sekedar gambar atau sketsa sebagai bentuk hobby dan pelampiasan rasa level biasa, melainkan sudah menjadi letupan-letupan rasa dengan level emosi yang sulit terlukiskan. Ya, tapi sepertinya ini juga bukan hanya sekedar tentang apa yang menjadi tontonan sang remaja yang kemudian disebut sebagai faktor pemicu yang melatarbelakangi aksinya. Ada hal utama lain yang sepertinya perlu kita cermati dan menjadi catatan penting yang juga bisa kita ambil sebagai pelajara...

Kepada Gurumu, Tawadhulah..!

Saya terlahir dan tumbuh dari keluarga besar pendidik ( guru ). Taqdir mempertemukan dengan suami yang juga terlahir dan besar dengan latar belakang keluarga besar yang sama. Nilai-nilai kehidupan, kisah-kisah jejak pengabdian yang tertorehkan oleh para pendahulu, jelas melekat erat dalam kehidupan kami dan anak-anak hari ini. Masih teringat, berbilang tahun ke belakang ketika usia kami belumlah remaja, saat bapak pernah memberi wejangan dalam rutinitas lingkaran kecil keluarga kami setelah sholat maghrib dan tadarus bersama, jelang sholat isya dan waktu belajar malam kami. " Umar bin Khattab pernah bilang seperti ini ' tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian '. Nah, Pesan ini bapak teruskan buat anak-anak bapak, ya. Tawadhulah dengan guru-guru kalian. Allah akan memberi keberkahan ilmu, ketika kalian menghargai seorang guru. Mereka memang tetap manusia, yang punya salah atau keliru. Tapi, ketawadhuan kalian, akhlak baik kalian kepada mereka InsyaAllah bi...

" Zah..Zah...Ustadzah.."

Gambar
Menyingkat kata, mungkin memang menjadi ciri dari generasi pemuda hari ini. Generasi Z, istilah yang dibuat manusia. Maka, beberapa tahun terakhir ini, beberapa kali juga kami mendengar kata-kata yang telah disingkat keluar dari lisan atau cerita anak-anak. Dimulai dari nama teman, nama tempat, nama makanan, yang padahal itu pun hanya berupa satu kata saja. Belum lama ini, si tengah yang 'terpapar'..😬 " Gimana ujian kemarin ?" " Alhamdulillah, B aja , ummi .." " B ? Maksudnya nilainya B ?" " Bukan, ..maksudnya ' biasa' aja .." Walah...😅 Lalu, ada kata dalam bahasa tulisan chat si sulung. " Awook ini maksudnya apaan sih ?" " Hehe, itu artinya wakawaka... singkatan dr wkwkwkwk gitu deh..." Haa ? @&%#%# Beneran deh, jadi pingin nyeruput kopi pahit 😅 Oke lah, awalnya untuk sementara kami tetap mencoba " memahami " kondisi kekinian, walau tetap selalu kami ingatkan bahwa tidak selalu yang 'kekin...